Iklan
Sunlight semua varian

Pakaian Adat Aceh yang Wajib Dikenakan Pria dan Wanita

Pakaian adat Aceh memiliki bagian yang berbeda untuk dikenakan pria dan wanita. Apa saja bagian tersebut? Baca penjelasan selengkapnya di sini!

Diperbarui

Pakaian Adat Aceh yang Wajib Dikenakan Pria dan Wanita

Pakaian adat Aceh dikenal juga dengan sebutan Baju Ulee Balang. Meskipun dipakai baik oleh wanita maupun pria, tapi baju ini memiliki jenis dan nama yang berbeda. Untuk pria, Baju Ulee Balang-nya disebut Linta Baro, sedangkan untuk wanita disebut Daro Baro. Di zaman dulu, pakaian adat seperti ini biasanya dipakai oleh para sultan dan para pembesar kerajaan Aceh. Namun, di era modern seperti sekarang ini, Baju Ulee Balang biasa dikenakan kedua mempelai dalam upacara pernikahan.

Baju adat Aceh memiliki ciri khas tersendiri yang merefleksikan seni dan budaya masyarakat lokal. Linta Baro, misalnya, biasa digunakan oleh pria dewasa ketika menghadiri acara resmi pemerintah atau upacara adat. Pakaian ini sendiri sudah ada sejak zaman Kerajaan Perlak dan Samudera Pasai di Aceh. Selain itu, pakaian adat wilayah ini pun tidak lepas dari pengaruh kebudayaan Melayu dan Islam.

Ingin mengetahui lebih banyak lagi tentang pakaian adat Aceh? Berikut ini informasi tentang pakaian adat tersebut yang perlu Anda ketahui!

Pakaian Adat Pria (Linta Baro)

Bagaimana gaya hidup Anda saat pandemi mempengaruhi variasi noda kotor di baju Anda?

Pakaian Adat Aceh yang Wajib Dikenakan Pria dan Wanita

Iklan

Sunlight semua varian

Pakaian adat Aceh yang disebut Linta Baro merupakan pakaian adat yang khusus digunakan oleh kaum pria. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, pakaian ini biasa digunakan saat ada kegiatan pemerintahan dan upacara adat sejak zaman dua kerajaan Islam besar di Aceh, yakni Samudera Pasai dan Perlak. Linta Baro melingkupi tiga bagian; atas, tengah, dan bawah dengan satu senjata tradisional sebagai pelengkap penampilan si pemakai. Apa saja bagian-bagian tersebut dan apakah fungsinya? Simak penjelasan di bawah ini  

1.  Meukasah

Meukasah merupakan salah satu bagian terpenting dari Linta Baro. Baju ini terbuat dari benang sutra yang ditenun. Meukasah biasanya berwarna hitam karena masyarakat Aceh percaya bahwa warna tersebut merupakan sebuah simbol kebesaran. Dikenakan di bagian atas, baju ini tertutup pada bagian kerah dan memiliki sulaman yang dijahit menggunakan benang emas. Meskipun dominasi budaya Melayu dan Islam lebih kuat dalam desain baju ini, terdapat sedikit sentuhan budaya Cina yang mana negara tersebut sempat menjadikan wilayah Aceh sebagai perlintasan dagang mereka.   

2.  Sileuweu

Sileuweu dikenal juga dengan istilah celana Cekak Musangnya para pria. Sileuweu merupakan celana panjang berwarna hitam bagian dari pakaian adat Linta Baro. Celana panjang ini terbuat dari kain katun yang ditenun. Pada bagian bawah, celana ini memiliki model melebar. Terdapat juga hiasan sulaman dengan pola yang indah yang terlihat pada bagian bawah Sileuweu. Sulamannya sendiri dibuat dari benang emas. 

Sileuweu juga dilengkapi dengan kain sarung songket yang terbuat dari sutra. Kain yang dikenal dengan nama Ija Lamgugap ini nantinya diikatkan pada bagian pinggang. Kain sarung songket tersebut wajib dipakai oleh kaum pria guna melengkapi Sileuweu. Penambahan kain ini bertujuan untuk menambah wibawa si pemakainya. Selain Ija Lamgugap, masyarakat Aceh menyebutnya dengan istilah Ija Sangket atau Ija Krong. Kain ini memiliki panjang rata-rata di atas lutut.  

3.  Meukeutop

Meukeutop adalah bagian terakhir dari pakaian adat Aceh yang biasa dipakai oleh kaum pria. Fungsinya yaitu sebagai penutup kepala dengan bentuk lonjong ke atas. Desain Meukeutop dilengkapi dengan sebuah lilitan yang dikenal dengan istilah tengkulok. Lilitan tersebut terbuat dari kain tenun sutra yang memiliki pola bentuk bintang persegi delapan dan terbuat dari kuningan atau emas.Meukeutop bisa juga dianggap sebagai mahkota kaum pria di Aceh. Desain penutup kepala ini dipengaruhi oleh budaya Islam dan menjadi salah satu bukti bahwa ajaran tersebut berperan besar dalam perkembangan kebudayaan daerah ini dan tidak lepas dari kehidupan masyarakat lokal Aceh.

Terdapat lima warna berbeda yang dipadukan dalam desain Meukeutop, yaitu merah, hijau, kuning, hitam, dan putih. Kelima warna tersebut memiliki arti atau filosofi tersendiri. Warna merah melambangkan kepahlawanan, warna hijau mencerminkan agama Islam, warna kuning yang berarti kesultanan, warna hitam berarti ketegasan, dan warna putih melambangkan kesucian.

4.  Rencong

Sebagai pelengkap dari Linta Baro, sebuah senjata khas Aceh perlu dilibatkan dalam pakaian adat tersebut. Senjata tersebut dikenal dengan nama Rencong atau Siwah. Senjata ini merupakan senjata tradisional dengan kepala yang terbuat dari perak atau emas. Biasanya terdapat juga batu permata sebagai hiasan di senjata itu. Rencong sendiri adalah sebuah belati yang menyerupai huruf L. Dulu senjata ini dipakai oleh para sultan dan pembesar. Rakyat biasa juga bisa menggunakan rencong, hanya saja bagian kepalanya terbuat dari tanduk hewan. Sebagai informasi tambahan, mata belati Rencong terbuat dari kuningan yang diasah tajam atau besi yang berwarna putih.

Meukasah, Sileuweu, dan Meukeutop merupakan bagian penting dari pakaian adat Aceh. Namun, tiga bagian ini hanya terdapat pada baju adat Aceh yang dikenakan khusus oleh pria, yaitu Linta Baro. Desain pakaian adat ini pun tidak lepas dari pengaruh budaya Melayu dan Islam serta sedikit sentuhan budaya Cina. Untuk melengkapi keseluruhan penampilan, senjata khas Aceh, yakni Rencong, perlu ditambahkan 

Nah, sekarang Anda sudah tahu seperti apa Linta Baro. Lantas bagaimana dengan pakaian adat Aceh untuk kaum wanita?

Pakaian Adat Wanita (Daro Baro)

Pakaian Adat Aceh yang Wajib Dikenakan Pria dan Wanita

Sebelumnya kita telah membahas pakaian adat pria yang disebut Linta Baro. Kali ini pembahasan akan berfokus pada pakaian adat yang biasa dipakai oleh wanita yang disebut Daro Baro. Pakaian adat wanita Daro Baro atau Peukayan Daro Baro ialah pakaian adat Aceh yang dikenakan khusus oleh wanita. Berbeda dengan Linta Baro yang didominasi oleh warna hitam, Daro Baro memiliki warna yang beragam, seperti hijau, kuning, merah, dan ungu. Selain itu, Daro Baro juga memiliki lebih banyak aksesoris berupa perhiasan dan pelengkap lainnya.

Meskipun memiliki perbedaan yang sangat mencolok, baik Linta Baro dan Daro Baro memiliki kesamaan, yaitu memiliki tiga bagian yang penting; atas, tengah, dan bawah. Pakaian adat wanita khas Aceh ini pun dipengaruhi oleh budaya Melayu dan Islam. Ingin tahu lebih banyak tentang Daro Baro? Baca informasi selengkapnya di bawah inI!

1.  Baju Kurung

Desain Baju Kurung dipengaruhi oleh budaya Arab, Melayu, dan Cina. Tidak heran bila bajunya terlihat longgar agar dapat menutupi bagian pinggul dan lekuk tubuh wanita secara keseluruhan. Lengan bajunya pun panjang untuk menutupi area lengan. Di bagian leher terdapat kerah sedangkan di bagian depan terdapat Boh Dokma, perhiasan wanita khas Aceh dengan desain yang memukau.

Sejak zaman dulu, Baju Kurung dibuat dari tenunan benang sutra dengan motif yang dibuat dari benang emas. Baju Kurung dilengkapi dengan kain songket khas Aceh atau Ija Krong Sungket yang dililitkan pada bagian pinggang. Ija Krong Songket ini nantinya akan menutupi pinggul. Untuk pakaian di bagian bawah diikat dengan tali pinggang yang terbuat dari perak atau emas. Tali pinggang tersebut dikenal dengan nama Taloe Ki Ieng Patah Sikureueng yang berarti tali pinggang patah sembilan.    

2.  Celana Cekak Musang

Celana Cekak Musang memiliki desain yang serupa dengan celana Sileuweu yang dikenakan pria dalam baju adat Aceh Linta Baro. Artinya baik Sileuweu dan Cekak Musang memiliki  model celana yang melebar ke bawah. Hanya saja celana Cekak Musang dalam Daro Baro memiliki warna yang cerah tergantung dari warna Baju Kurung yang dikenakan. Celana ini juga dilapisi dengan sarung tenun yang panjangnya sampai ke lutut.

Celana Cekang Musang memiliki hiasan pada pergelangan kakinya. Hiasan tersebut berbentuk sulaman yang terbuat dari benang emas dan dapat mempercantik desain celana tersebut. Cekak Musang juga kerap kali digunakan para wanita Aceh ketika mereka menampilkan tarian tradisional khas daerah yang dijuluki Serambi Mekah ini.  

3.  Perhiasan  

Perhiasan yang digunakan dalam pakaian adat Aceh untuk wanita cukup beragam. Contohnya ada Patam Dhoe yang merupakan perhiasan dalam bentuk mahkota. Di bagian tengah Patam Dhoe terdapat ukiran yang berbentuk seperti daun sulur. Biasanya Patam Dhoe terbuat dari emas dengan bagian kanan dan kiri dibentuk menyerupai motif bunga, daun, atau pepohonan. Di bagian tengah biasanya terdapat ukuran kaligrafi yang bertuliskan lafadz Allah dan Muhammad. Kombinasi motif ini dikenal dengan istilah bungoh kalimah. Bungoh kalimah dikelilingi oleh bulatan-bulatan dan bunga-bunga. Hal tersebut menandakan bahwa wanita yang mengenakannya telah menikah dan menjadi tanggung jawab suaminya. 

Selain Patam Dhoe, ada juga perhiasan lain yang dikenakan wanita Aceh saat mengenakan pakaian adat Patam Dhoe, yaitu anting-anting yang dikenal dengan nama subang. Subang terbuat dari emas dan memiliki motif bulatan kecil yang disebut boh eungkot. Pada bagian bawah anting terdapat hiasan yang menjuntai untuk mempercantik tampilannya. Anting-anting subang juga memiliki jenis lain, yaitu subang bungong mata uroe. Subang ini berbentuk seperti bunga matahari.

Perhiasan lain yang biasa dikenakan wanita bersama dengan pakaian adat Daro Baro yaitu kalung yang terbuat dari emas. Kalung emas tersebut memiliki enam batu berbentuk hati dan satu berbentuk seperti kepiting. Kalung khas Aceh ini juga dikenal dengan nama Taloe Tokoe Bieung Meuih. Ada juga kalung emas dengan motif daun sirih serta kalung azimat dengan manik-manik bermotif bulat seperti boh bili. Tidak ketinggalan ada juga gelang kaki (Gleuang Goki), gelang tangan (Ikay), dan cincin Aceh (Euncien Pinto). Semua perhiasan tersebut yang biasanya terbuat dari emas putih atau kuning.

Pakaian adat Aceh Daro Baro sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Linta Baro. Hanya saja, saat memakai pakaian ini, para wanita juga mengenakan berbagai perhiasan lain untuk mempercantik penampilan mereka. Daro Baro juga lebih beragam dari sisi pilihan warna bila dibandingkan dengan Linta Baro yang hanya didominasi oleh warna hitam.

Dari penjelasan di atas, Anda sudah mengetahui bahwa pria dan wanita mengenakan jenas pakaian adat Aceh yang berbeda, yaitu Linta Baro dan Daro Baro. Dari segi desain, Linta Baro memang lebih sederhana namun tetap terkesan berwibawa. Pasalnya, sejak zaman dulu pun pakaian ini sering dikenakan oleh para sultan dan tokoh bangsawan di Aceh. Sedangkan Daro Baro memiliki desain yang lebih kompleks namun mampu memancarkan keindahan dan pesona pada si pemakainya. Perhiasan yang melengkapi Daro Baro tidak kalah indah dan mampu memunculkan ciri khas Aceh.

Awalnya diterbitkan