Unilever logo
Cleanipedia logo

Penyakit Cacar Monyet: Gejala dan Cara Mencegahnya

Penyakit cara monyet kini tengah membuat dunia geger. Sebenarnya apa itu penyakit cacar monyet? Apa penyebab dan bagaimana cara mencegahnya?

Diperbarui

Ditulis oleh Hiari Azhar Jauhari

01. Cleanipedia September 2022 Header

Durasi Baca 12 - 13 Menit

Pandemi Covid-19 yang terjadi sejak awal tahun 2020 telah menyadarkan masyarakat dunia tentang pentingnya menjaga kesehatan. Kini, banyak orang semakin peduli terhadap kesehatan sebagai upaya meminimalkan risiko penyakit menular. Salah satu wabah yang patut diwaspadai selain Covid-19 adalah penyakit cacar monyet. Pemahaman tentang penyakit tersebut sangat dibutuhkan agar semua orang dapat melakukan cara mencegah cacar monyet yang tepat.

Mari menyimak ulasan lengkap seputar penyakit cacar monyet, gejala, serta cara pencegahannya berikut ini!

Apa Itu Penyakit Cacar Monyet?

Cacar monyet (monkeypox) adalah penyakit yang disebabkan infeksi virus langka bernama monkeypox dari hewan (lazim disebut virus zoonosis). Monkeypox termasuk dalam kelompok Orthopoxvirus yang tak hanya bisa menjangkiti monyet dan manusia, tetapi juga hewan lain seperti tupai dan tikus. Sebenarnya, cacar monyet bukanlah penyakit baru di dunia kesehatan. Kasus pertama penyakit tersebut menyerang sekelompok monyet yang dipelihara untuk penelitian pada tahun 1958. Monyet-monyet yang terjangkit virus menunjukkan gejala menyerupai orang yang sakit cacar.

Kasus cacar monyet pertama yang menjangkiti manusia terjadi di Kongo tahun 1970. Sejak saat itu, penyakit cacar monyet mulai menyebar ke kawasan Afrika Tengah, Afrika Barat, serta berbagai negara di belahan dunia lainnya. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat mencatat wabah cacar monyet di luar kawasan Afrika dengan jumlah paling banyak sebesar 43 kasus pada tahun 2003. Para peneliti kesehatan menyatakan bahwa bayi, anak-anak, remaja, dan anak muda lebih rentan terserang penyakit tersebut dengan persentase kematian terbesar berasal dari kalangan anak-anak.

Ada beberapa cara penularan penyakit cacar monyet, yaitu:

  • Kontak langsung dengan hewan liar pembawa virus monkeypox, terutama monyet.

  • Kontaminasi virus dari ibu hamil ke janin melalui plasenta.

  • Bersentuhan dengan barang-barang pribadi, cairan tubuh (misalnya air liur, darah, dan sperma), atau luka orang yang sudah terjangkit virus monkeypox.

Penyebaran Cacar Monyet di Indonesia

Kasus penyakit cacar monyet pertama kali ditemukan di Indonesia pada tanggal 22 Agustus 2022. Penyakit tersebut diidap oleh warga Jakarta yang memiliki riwayat perjalanan ke luar negeri sebelum terjangkit virus monkeypox. Saat itu, kondisi pengidap cacar monyet tergolong baik sehingga tidak membutuhkan perawatan intensif. Hal tersebut memang wajar karena cacar monyet tergolong penyakit yang dapat sembuh dengan sendirinya (self-limited disease) meskipun gejalanya memang sangat mengganggu. Selain itu, cacar monyet juga membutuhkan waktu penyembuhan yang lebih lama dibandingkan jenis cacar lainnya.

Faktor-Faktor yang Memperbesar Risiko Cacar Monyet

Beberapa faktor yang dapat memperbesar risiko cacar monyet adalah sebagai berikut:

  • Merawat orang yang sedang terjangkit virus monkeypox.

  • Melakukan kontak langsung dengan hewan liar tanpa alat pelindung, terutama monyet yang terjangkit virus monkeypox.

  • Menyantap daging hewan liar tanpa proses pematangan yang sempurna.

Tahapan dan Gejala Cacar Monyet

Orang yang baru terjangkit cacar monyet akan mengalami masa inkubasi yang berlangsung antara 6 hingga 13 hari. Namun, ada pula yang mengalami masa inkubasi lebih panjang hingga mencapai 21 hari. Meskipun tidak merasakan gejala apapun selama masa inkubasi, orang yang terjangkit virus cacar monyet tetap dapat menularkan penyakit tersebut kepada orang lain. Selanjutnya, penyakit cacar monyet dikelompokkan berdasarkan dua periode infeksi, yaitu:

  • Periode invasi: terjadi pada rentang waktu 0 hingga 5 hari pasca terjangkit virus dengan beberapa gejala sebagai berikut.

    • Demam hingga suhu tubuh melebihi 38,50C bahkan disertai menggigil.

    • Tubuh terasa lemas.

    • Sakit kepala yang sangat mengganggu.

    • Hidung berair.

    • Kehilangan nafsu makan.

    • Nyeri otot dan sakit punggung.

    • Pembengkakan kelenjar getah bening (limfadenopati) pada leher, ketiak, atau selangkangan. Gejala ini merupakan ciri khas cacar monyet yang membedakannya dengan jenis cacar lainnya.

    • Gangguan pernapasan seperti batuk, hidung berair, dan radang tenggorokan bila pengidap terinfeksi virus melalui mulut atau saluran pernapasan.

  • Periodeerupsi kulit: ciri khas periode penyakit cacar monyet ini ditandai sejumlah kemunculan ruam pada tubuh, antara lain:

    • Ruam pada wajah, telapak tangan, telapak kaki lalu menyebar ke seluruh permukaan kulit.

    • Ruam juga terjadi pada membran mukosa yang terdapat di tenggorokan, alat kelamin, dan jaringan mata.

    • Kondisi ruam akan berubah menjadi lenting, yaitu lepuhan kulit berisi cairan yang kemudian mengering dan membentuk koreng dalam waktu beberapa hari. Butuh waktu kurang lebih 3 minggu agar koreng mengelupas dengan sendirinya.

Diagnosis Cacar Monyet

Dokter akan melakukan beberapa hal berikut ini sebelum mendiagnosis cacar monyet.

  • Memeriksa ruam dan menanyakan ada atau tidaknya riwayat perjalanan ke luar negeri. Perjalanan ke luar negeri memperbesar risiko cacar monyet karena penyebarannya tergolong lebih masif di luar Indonesia.

  • Melakukan serangkaian tes, seperti tes darah dan tes Polymerase Chain Reaction (PCR atau tes usap).

  • Menjalankan prosedur biopsi dengan mengambil sampel jaringan kulit untuk diperiksa dengan mikroskop.

Cara Mencegah Cacar Monyet

Penyebaran penyakit cacar monyet memang sangat meresahkan bagi semua kalangan. Namun, Anda tidak perlu khawatir karena ada berbagai cara yang bisa Anda lakukan untuk meminimalkan risikonya. Mulai sekarang, sebaiknya Anda maupun keluarga mulai membiasakan diri melakukan beberapa cara mencegah cacar monyet berikut ini.

  • Menerima vaksinasi cacar monyet untuk mengantisipasi risiko penularan penyakit tersebut. Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) telah menyetujui dua jenis vaksin cacar monyet, yaitu JYNNEOS (imvanex atau imvamune) dan ACAM2000 (mengandung virus hidup). Kedua jenis vaksin tersebut akan mulai didistribusikan ke berbagai negara pada akhir tahun 2022 dengan target utama anak-anak berusia di bawah 8 tahun, orang yang melakukan kontak langsung dengan pengidap, serta pihak-pihak yang bekerja di laboratorium untuk meneliti Orthopoxvirus.

  • Menghindari kontak langsung dengan hewan yang berisiko membawa virus monkeypox, seperti monyet, tupai, dan tikus, terutama jika hewan tersebut dalam kondisi sakit atau mati.

  • Menghentikan kebiasaan mengonsumsi daging yang tergolong makanan ekstrem, misalnya daging monyet. Jangan lupa pula untuk memasak olahan daging dengan suhu panas dalam waktu lama supaya matang sempurna.

  • Membatasi kontak dengan orang-orang yang menunjukkan gejala penyakit cacar monyet.

  • Menjauhi cairan tubuh atau barang-barang yang digunakan pengidap cacar monyet, misalnya air liur, air seni, darah, tempat tidur, selimut, handuk, pakaian, dan peralatan makan.

  • Memakai masker sesuai standar WHO saat berada di dekat pengidap cacar monyet atau di kawasan yang rentan penyebaran virus penyakit tersebut. Pastikan masker menutupi hidung dan mulut Anda dengan posisi yang tepat. Jangan lupa pula mengganti masker secara teratur jika sudah kotor, basah karena terkena keringat, atau telah digunakan dalam waktu lama.

  • Mengenakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap ketika harus merawat orang yang terjangkit cacar monyet.

  • Menggunakan kondom ketika melakukan hubungan seks untuk meminimalkan risiko penularan cacar monyet melalui kontak alat kelamin.

  • Menjaga kebersihan diri usai beraktivitas di luar rumah atau melakukan kontak langsung dengan pengidap cacar monyet. Anda harus lekas mengganti pakaian, mandi, dan membersihkan barang-barang dengan cairan disinfektan.

  • Memastikan bahwa kondisi pakaian Anda senantiasa higienis ketika digunakan. Risiko penularan virus cacar monyet melalui pakaian memang terbilang rendah. Namun, tak ada salahnya bila Anda melakukan langkah antisipasi dengan mencuci pakaian menggunakan Rinso Anti Noda Classic Fresh Detergen Bubuk. Produk Rinso ini dilengkapi formula yang efektif membunuh 99% kuman dan bakteri. Di samping itu, Rinso Anti Noda Classic Fresh Detergen Bubuk juga dapat menghilangkan noda dalam satu kali kucek dan dilengkapi teknologi anti residu yang membuat warna pakaian tetap cemerlang. Sensasi keharuman bunga melati dan mawar putih yang istimewa pada varian Rinso ini membuat pakaian terasa harum hingga 21 hari. Anda tak perlu mengkhawatirkan kebersihan pakaian jika senantiasa mencucinya dengan Rinso Anti Noda Classic Fresh Detergen Bubuk.

  • Menyiapkan air panas untuk mencuci pakaian agar lebih higienis. Namun, pastikan bahwa jenis pakaian tersebut memang bisa dicuci dengan air panas tanpa menyebabkan perubahan tekstur atau warna.

  • Membersihkan permukaan benda yang sering disentuh menggunakan cairan disinfektan, misalnya layar smartphone, meja, pegangan tangga, pegangan pintu, dan remote TV. Penggunaan cairan disinfektan cukup ampuh membasmi virus penyebab penyakit menular.

  • Mencuci tangan dengan sabun antiseptik dan air mengalir secara rutin, khususnya usai menggunakan toilet, menyentuh barang-barang di tempat umum, sebelum makan, atau setelah kontak langsung dengan pengidap cacar monyet.

Cara Mengobati Penyakit Cacar Monyet

Hingga saat ini, belum ada obat-obatan khusus yang dapat mengatasi cacar monyet. Kendati demikian, beberapa tindakan suportif berikut ini biasanya dianjurkan dokter untuk mempercepat penyembuhan penyakit tersebut.

  • Konsumsi obat bersifat antivirus untuk menekan perkembangbiakan virus dalam tubuh si pengidap. Biasanya, pemberian obat tersebut juga disertai suplemen untuk meningkatkan imunitas sehingga tubuh punya kemampuan memadai untuk melawan virus penyebab penyakit.

  • Pemberian obat lainnya untuk meringankan gejala cacar monyet, seperti demam, nyeri otot, dan kulit gatal. Ruam dan lenting yang muncul di kulit pengidap cacar monyet sebaiknya tidak digaruk agar tidak menimbulkan noda yang sulit hilang.

  • Isolasi diri supaya tidak melakukan banyak kontak langsung dengan orang lain. Hal ini penting untuk mengurangi risiko penyebaran cacar monyet.

  • Mandi dengan air hangat untuk mengurangi ruam dan rasa gatal pada kulit.

  • Beristirahat yang cukup agar stamina tubuh kembali seperti sedia kala.

  • Konsumsi makanan dengan gizi seimbang dan asupan cairan yang cukup untuk mendukung daya tahan tubuh.

Saatnya Lebih Waspada terhadap Cacar Monyet

Meskipun bisa sembuh dengan sendirinya, penyakit cacar monyet tetap harus diwaspadai dan ditangani secara intensif agar tidak menimbulkan beberapa komplikasi berikut ini.

  • Berbagai masalah kulit seperti hipopigmentasi, hiperpigmentasi, dan selulit. Meskipun terkesan sederhana, komplikasi cacar monyet ini tentu rentan menurunkan rasa percaya diri.

  • Infeksi kornea yang bisa berujung pada kebutaan bila tidak ditangani secara telaten.

  • Peradangan paru-paru(pneumonia) bila infeksi virus menjangkiti sistem pernapasan.

  • Peradangan otak (ensefalitis) dengan gejala awal yang kerap dianggap penyakit ringan, seperti sakit kepala dan demam.

  • Sepsis, yaitu kondisi peradangan ekstrem pada tubuh sebagai bentuk respon berlebihan terhadap infeksi. Kondisi sepsis yang dibiarkan begitu saja dapat membuat pengidapnya meninggal dunia.

Jangan sampai kelengahan membuat Anda atau orang-orang terdekat terjangkit wabah penyakit cacar monyet. Mari jalani pola hidup sehat dan menjaga kebersihan diri sendiri secara cermat agar terhindar dari virus cacar monyet serta berbagai penyakit menular lainnya.

Hiari Azhar Jauhari

Hiari Azhar Jauhari, asal dari Bandung, merupakan seorang content editor di sebuah marketing agency bernama IndboundID. Selain itu, Hiari juga merupakan seorang shutterbug.

Author Bio

Awalnya diterbitkan