Unilever logo
Cleanipedia logo

8 Cara Mengatasi Pencemaran Air

Saatnya mengenal dampak pencemaran air yang berbahaya beserta penyebabnya agar Anda bisa turut serta mengatasinya dengan cara yang tepat.

Diperbarui

Ditulis oleh Admin

04-Cleanipedia-Juni-2022-Header

Pencemaran air masih menjadi masalah klasik yang tak kunjung teratasi, baik di tanah air maupun di seluruh dunia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa 10.683 desa dan kelurahan di Indonesia mengalami dampak pencemaran air sepanjang tahun 2021. Mayoritas penyebab pencemaran air di desa dan kelurahan tersebut adalah limbah rumah tangga (6.160 desa/kelurahan) dan sisanya disebabkan oleh limbah pabrik (4.496 desa/ kelurahan) serta sumber-sumber lainnya (27 desa/ kelurahan).

Masalah tersebut membutuhkan penanganan serius dari pemerintah maupun seluruh kalangan masyarakat. Jangan sampai dampak pencemaran air meluas hingga menyebabkan kerusakan ekosistem yang tidak dapat ditangani lagi. Mari kenali pencemaran air lebih dekat supaya Anda tergugah membantu mengatasi pencemaran air dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga.

Apa yang Dimaksud dengan Pencemaran Air?

Berdasarkan definisi dalam Encyclopedia Britannica, pencemaran atau polusi air didefinisikan sebagai pelepasan zat ke dalam air dari berbagai sumber (air tanah permukaan, mata air, danau, sungai, laut, dan sebagainya) hingga melampaui batas aman dan mengganggu manfaat air maupun fungsi alami ekosistem air.

Senada dengan definisi tersebut, Peraturan Pemerintah No.20 tahun 1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air mengartikan pencemaran air sebagai masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, atau komponen lain ke dalam air oleh kegiatan manusia sehingga kualitas air tersebut turun ke batas tertentu yang menyebabkan air tidak berguna lagi sesuai peruntukannya. Jadi, beberapa fenomena yang terjadi secara alami akibat gunung meletus, pertumbuhan gulma secara pesat, badai, gempa bumi, serta gangguan alam lainnya tidak digolongkan sebagai penyebab pencemaran air.

Penyebab Pencemaran Air

Penyebab pencemaran yang merusak kualitas dan fungsi air wajib ditanggulangi secara serius. Berikut beberapa penyebab pencemaran air. 

  • Limbah cair industri: penyebab pencemaran air yang satu ini sangat berbahaya dan telah mengotori ribuan sumber air di tanah air. Berbagai jenis logam berat seperti kadmium, timbal, dan raksa yang terkandung dalam limbah cair industri sangat berbahaya bagi makhluk hidup dan dapat merusak ekosistem bila mencemari sumber air.

  • Limbah rumah tangga: jenis limbah rumah tangga sangat beragam, bisa berupa zat organik, anorganik, maupun Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) dengan rincian sebagai berikut:

    • Limbah organik: sisa makanan, sampah sayuran dan buah-buahan, tinja, kertas, dan zat lain yang dapat diuraikan mikroorganisme.

    • Limbah anorganik: sampah plastik, kertas, kaleng, kacang, dan puing-puing reruntuhan bangunan.

    • Limbah B3: residu detergen, sisa minyak goreng, dan zat berbahaya lainnya.

  • Limbah Pertanian: aktivitas pertanian juga bisa menjadi penyebab pencemaran air jika melibatkan pupuk maupun pestisida kimia yang residunya mengotori air.

  • Limbah Peternakan dan Perikanan: kotoran dan sisa makanan ternak yang tidak diolah terlebih dahulu akan menyebabkan pencemaran jika langsung dibuang ke air. Penyebab pencemaran air lainnya juga berasal dari bahan peledak yang kerap digunakan untuk menangkap ikan.

  • Kerusakan Hutan dan Aktivitas Pertambangan: kondisi air sangat dipengaruhi vegetasi di sekitarnya sehingga perusakan hutan menyebabkan pencemaran air. Hal ini dapat terjadi karena batang vaskular pohon mampu menyaring air secara mikroskopis sehingga minim bakteri. Di samping itu, pencemaran air juga bisa disebabkan aktivitas pertambangan seperti kebocoran kilang minyak di laut dan limbah pencucian batubara yang mengandung sulfur.

Waspada terhadap Dampak Pencemaran Air

Pencemaran air merupakan masalah serius bagi lingkungan yang tak boleh dianggap remeh karena dapat menyebabkan beberapa dampak berbahaya, yaitu sebagai berikut.

  • Kerusakan ekosistem: masalah pencemaran air berisiko menyebabkan peningkatan jumlah gulma air dan mikroorganisme penyebab penyakit sehingga keseimbangan ekosistem air terganggu. Salah satu masalah yang disebabkan pencemaran air adalah eutrofikasi, yaitu proses masuknya bahan kimia ke air yang mendorong pertumbuhan ganggang sehingga kehidupan perairan terkena dampak negatif. Tak hanya mempengaruhi kondisi ekosistem air, hal ini juga berdampak pada kualitas hidup manusia sebab air yang tercemar akan menurunkan komoditas perikanan dan menyebabkan masalah kesehatan.

  • Gangguan rantai makanan: dampak pencemaran air yang tidak segera diatasi secara serius juga memicu gangguan pada rantai makanan. Organisme perairan berisiko mengalami kepunahan sehingga struktur rantai makanan terganggu. Lebih parahnya lagi, sumber makanan yang sudah terkontaminasi racun akibat pencemaran air bisa menyebabkan penyakit yang dapat berakibat fatal bagi siapa pun yang mengonsumsinya (hewan dan manusia).

  • Kemunculan penyakit: penggunaan air yang tercemar untuk kebutuhan konsumsi maupun Mandi Cuci Kakus (MCK) dapat meningkatkan berbagai risiko penyakit seperti diare, demam berdarah, tifus, kolera, hepatitis A, disentri, infeksi mata (trakoma), serta gangguan kesehatan kulit.

  • Percepatan reaksi kimia: ada sebagian zat pencemar air yang bisa diubah bakteri menjadi gas, misalnya kandungan sulfur di air yang diuraikan mikroorganisme sehingga menjadi hidrogen sulfida (H2S). Selain tergolong sebagai gas beracun yang mudah terbakar, hidrogen sulfida juga dapat mempercepat karat pada besi sehingga kemunculannya sangat berbahaya.

  • Pencemaran tanah: dampak pencemaran air juga berisiko menyebabkan pencemaran tanah karena zat-zat beracun dalam air ikut terserap ke dalam tanah. Akibatnya, kesuburan tanah berkurang drastis sehingga menyebabkan tanaman rentan mati.

  • Keindahan lingkungan terganggu: satu lagi akibat yang disebabkan pencemaran air adalah keindahan lingkungan menjadi terganggu. Kondisi air di sekitar lingkungan menjadi keruh, mengalami perubahan warna, bahkan menimbulkan bau jika sudah tercemar parah. Sumber air yang tercemar akan mengganggu pemandangan dan tidak bisa digunakan lagi sebagai sarana hiburan maupun olahraga air.

Contoh Kasus Pencemaran Air di Indonesia

Mayoritas sumber air di tanah air telah mengalami masalah pencemaran air serius yang membutuhkan penanganan berkelanjutan. Salah satu contoh kasus pencemaran air yang sempat menghebohkan masyarakat adalah tercemarnya Sungai Citarum. Sungai yang mengalir di kawasan Jawa Barat tersebut dinobatkan sebagai salah satu sungai paling kotor di dunia pada tahun 2018 dengan Indeks Kualitas Air (IKA) sebesar 33,43 poin.   

Sungai sepanjang 269 km tersebut mengalami masalah pencemaran yang parah karena banyak masyarakat dan pabrik di sekitar sungai yang membuang limbah serta sampah sembarangan. Lebih parahnya lagi, sebanyak 2.000 ton sampah melewati Sungai Citarum setiap harinya. Pemerintah Provinsi Jawa Barat maupun pemerintah pusat mengupayakan berbagai cara untuk mengatasi masalah pencemaran air Sungai Citarum, salah satunya melalui program Citarum Harum yang langsung diprakarsai Presiden Joko Widodo tahun 2018.

Saat itu, sebanyak 1.700 personel militer dan 1.300 masyarakat lokal bahu-membahu mengangkat 80 ribu ton sampah Sungai Citarum. Proses penanaman 1,4 juta pohon di sekitar hulu sungai juga turut dilakukan demi memulihkan ekosistem. Proses penguraian limbah organik juga melibatkan penggunaan zat eco enzyme pada anak-anak sungai Citarum agar skala pencemarannya semakin menurun.

Segala upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil yang cukup baik. Perbaikan kondisi Sungai Citarum ditandai dengan peningkatan nilai IKA ke angka 55 poin yang termasuk ke dalam kategori cemar ringan pada tahun 2020. Jumlah bahan buangan (Chemical Oxygen Demand atau COD) di Sungai Citarum sudah berada dalam tahap aman. Sampah yang terdapat di sungai tersebut juga sudah berkurang hingga 42%. Proses susur sungai masih dilakukan hingga akhir tahun 2021 untuk mengevaluasi kondisi sungai Citarum secara keseluruhan.

Kegigihan pemerintah dan masyarakat dalam membenahi masalah pencemaran air Sungai Citarum harus dilakukan secara berkesinambungan dan menjadi contoh bagi penanganan sumber-sumber air lainnya. Harapannya, kondisi pencemaran air di Indonesia berangsur-angsur membaik dan kualitas air pun kembali meningkat.

Cara Mengatasi Pencemaran Air

04-Cleanipedia-Juni-2022-Subheader

Dampak pencemaran air yang sangat berbahaya bagi keseimbangan lingkungan sebenarnya dapat ditanggulangi dengan melakukan delapan cara mengatasi pencemaran air berikut ini.

  • Menggunakan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) atau kolam stabilisasi untuk mengantisipasi limbah berbahaya yang dihasilkan berbagai industri. Sistem IPAL biasanya terdiri dari 3 tahapan, yaitu:

  • Pengolahan Pertama (Primary Treatment): pemisahan zat padat dan zat cair menggunakan filter dan bak sedimentasi.

  • Pengolahan Kedua (Secondary Treatment): proses koagulasi untuk menghilangkan koloid dan menstabilkan zat organik dalam limbah.

  • Pengolahan Ketiga (Tertiary Treatment): penghilangan unsur hara (khususnya nitrat dan fosfat) serta penambahan klor untuk membasmi mikroorganisme penyebab penyakit.

  • Mengelola limbah rumah tangga berupa tinja secara cermat. Cara mengatasi pencemaran air yang satu ini bisa dilakukan dengan mengimplementasikan sistem sanitasi yang terencana dan higienis supaya tinja tidak langsung mencemari air.

  • Menjauhkan polutan (penyebab pencemaran) dari sumber air. Hal ini biasanya diatur dalam regulasi khusus, misalnya jarak minimal antara kawasan industri atau sistem sanitasi rumah tangga dengan sumber air. Pelaksanaan regulasi tentu harus dibarengi dengan sanksi yang tegas bagi para pihak yang melanggar aturan tersebut.

  • Mengupayakan edukasi dan gerakan nyata secara gencar agar seluruh kalangan masyarakat memahami dampak pencemaran air yang berbahaya. Kesadaran tersebut akan membuat masyarakat tergugah menjaga kebersihan air secara konsisten melalui langkah sederhana, misalnya tidak membuang sampah rumah tangga sembarangan ke sumber air.

  • Memprioritaskan penggunaan produk ramah lingkungan seperti detergen, pupuk, dan pestisida organik untuk meminimalkan kontaminasi zat-zat beracun pada sumber air.

  • Melakukan proses penanaman dan perawatan pohon pada lahan hijau yang masih tersedia sebab keberadaan pohon dapat membantu menjaga kelangsungan siklus air bersih.

  • Melaksanakan proses pembersihan sumber air secara berkala (khususnya sungai dan danau). Salah satu contohnya yaitu Program Kali Bersih. Upaya ini tidak hanya bermanfaat membersihkan sumber air, tetapi juga efektif mencegah pendangkalan sekaligus mengurangi risiko banjir.

  • Mengandalkan produk-produk dari brand yang konsisten menjaga kelestarian lingkungan. Saat ini, Unilever berkomitmen menghadirkan produk ramah lingkungan yang minim kandungan bahan berbahaya. Selain mengurangi penggunaan zat-zat kimia dalam produknya, Unilever juga memangkas penggunaan plastik baru (virgin plastic) sekaligus menggagas produksi kemasan produk berbahan dasar plastik daur ulang yang lebih mudah terurai. Unilever berkolaborasi dengan Lazada menghadirkan program Easy Green yang mempermudah masyarakat mengenali produk-produk ramah lingkungan persembahan Unilever.

Cara menemukan produk ramah lingkungan Unilever sangatlah mudah. Anda tinggal mengunjungi toko online Unilever di Lazada lalu mencari produk ramah lingkungan yang berlabel Easy Green. Setiap produk kategori perawatan rumah tangga yang memiliki label Easy Green memenuhi minimal satu dari beberapa kriteria ramah lingkungan, termasuk biodegradability yang menunjukkan bahwa 99% formula produk harus terurai secara alami.

Kesimpulannya, mengatasi pencemaran air tidak sesulit yang Anda bayangkan sebab Anda bisa memulainya dari hal-hal yang paling mudah. Mari ciptakan bentuk dukungan nyata Anda dalam menanggulangi dampak pencemaran air bagi kelestarian lingkungan.

Awalnya diterbitkan